Senin, 09 Maret 2015

Wisata Alam

Pengalaman kali Pertama Mendaki Rinjani

Pengalaman kali Pertama Mendaki Rinjani

Tieno Gufran
 Oleh Tieno Gufran
 14 Maret, 2014 20:53:06
 Wisata Alam
 Komentar: 0
 Dibaca: 1748 Kali
Kehidupan sesungguhnya seperti mendaki gunung, keberadaan aku dan segala kelemahannya dituntut untuk menjalani setiap langkah baik mendatar menurun maupun menanjak. Aku diminta untuk memahami siapa aku dan apa yang harus aku dilakukan untuk mencapai titik puncak
dan titik pulang kembali. Mendaki gunung Rinjani menjadi yang pertama seumur hidup dari seluruh pengalaman jalan-jalan lain.  Perjalanan dimulai dari Sembalun (1200 mdpl), desa kecil di bawah kaki gunung, melewati hamparan sabana dengan jalan yang mendatar selama hampir 6 jam untuk sampai ke Pos III, tempat kami memasang tenda beristirahat.  Ini bukan rencana awal, karena tadinya kami bermaksud untuk naik sampai Plawangan baru beristirahat. Tapi syukur kami tidak lanjut malam itu, karena sekejap kami masuk ke tenda, hujan turun; dan ternyata dari Pos III ke Plawangan, jalan mulai menanjak sampai dengan kemiringan 45 derajat.  Aku tidak bisa membayangkan jika perjalanan dilanjutkan malam itu, bisa jadi aku pingsan.
Setiap pengalaman baru selalu memberi reaksi baru bagi tubuh ini.  Malam itu di Pos III, aku mengalami Panic Attack, sesak nafas dan ingin melakukan hal yang tidak masuk akal, seperti ingin membuka semua baju dan lari pulang ke rumah. Untung ada kawan yang mengajak berbicara dan membuatkan air panas untuk meredakan serangan itu.  Malam bisa berlalu, walau aku sedikit masih khawatir dengan suasana gelap di dalam tenda yang dingin.  Satu hal yang aku syukuri, inilah kali pertama aku dapat mengatasi rasa panik itu; melewati dengan berusaha berpikir waras dan kembali kepada kenyataan yang ternyata tidak apa apa.
Esok pagi kami melanjutkan pendakian hingga Plawangan; rasa khawatir itu tetap ada, apalagi jika membayangkan malam nanti akan datang lagi, bagaimana jika rasa panik itu datang lagi?, Belum lagi ketinggian di Plawangan (2700 mdpl) tentu membuat cuaca lebih dingin. Semua teman memberi pendorong semangat, menurut mereka aku pasti kuat, hanya jalani saja satu langkah untuk tiap saat, jangan melihat ke atas, lihatlah jalanan satu langkah di depan dalam satu tarikan dan hembusan nafas. Pelan dan pelan dan pelan, satu langkah satu langkah; doa yang kuucapkan, nyanyian yang menguatkan, pikiran tentang orang orang yang aku sayang; itu semua yang aku masukkan ke dalam pikiran dan iman, pikiran aku hanya satu, ingin melangkah satu langkah lagi, walau terjal dan sulit.  Setelah 5 jam pendakian, aku sampai di Plawangan disambut dengan pemandangan Danau Segara Anak yang tertutup awan di bawah kaki aku. Sungguh ajaib apa yang kurasa; amazing feeling; aku berada di atas batas kesanggupan yang aku pikir selama ini; definis tentang kekuatan aku selama ini salah besar. Penyerahan diri kepada kuasa Yesus yang kusebut dalam tiap nafas yang tersengal, dorongan para kawan, kosongnya pikiran dari cara berpikir yang dahulu, ternyata membuktikan bahwa ini lah kenyataan aku.  Aku sanggup sampai di puncak Plawangan.
Keindahan danau Segara Anak dengan awan awan yang bergerak beriringan, puncak Rinjani yang menyapa di sebelah kiri aku dan gunung – gunung lain di bawah kami, menjadi bonus atas perjuangan dengan semua paket tadi yang mengiringinya. Indahnya bintang yang seperti pasir berserakan di pantai, malam ini terasa begitu dekat dan bisa dipegang.  Indah sekali. Aku tak sampai mencapai puncak Rinjani (3729 mdpl), hanya Paris, Harapan dan Saut yang berangkat di subuh jam 3.  Untuk ini, aku cukup tahu diri; kali ini aku belum sanggup, tapi tahun depan dengan persiapan yang lebih baik, tentu aku akan mencoba lagi untuk sampai ke puncak.  Rencana boleh tapi dalam pendakian seperti ini kadang diperlukan fleksibilitas, tadinya kami akan turun lewat jalur Torean, jalur yang tidak umum yang kadang dipakai oleh para penduduk, tapi atas usul Harapan setelah mendengar keraguan para porter yang khawatir akan medan yang terjal maka kami putuskan untuk kembali lewat jalur Sembalun.
Jam 13.00 hari ketiga setelah ketiga kawan kembali dari puncak Rinjani, kami mulai turun gunung. Ternyata turun lebih sakit dari naik.  Lutut dan engkel kaki terasa perih karena menopang berat badan. Baru sampai Pos III, kaki rasanya tidak bisa ditekuk dan harus ditopang dengan tongkat. Langkah kaki hanya sedikit sedikit sementara perjalanan makin lama dan hari mulai gelap dan dingin. Perjalanan terberat kurasa setelah Pos I menjelang home base Sembalun, walaupun jalannya datar, tapi jaraknya jauh sementara hari sudah gelap, ditambah lagi dengan badan yang seperti sudah amat teramat capek. Beberapa kali kaki harus diluruskan oleh Ario, juga sesekali digendong karena kaki terasa perih saat menjejak di jalan menurun.  Hampir pukul 21.00, akhirnya terpaksa aku menmpang ojek di 1 km terakhir, karena badan sudah hampir pingsan. Akhirnya sampai juga. 

Sumber:http://wisata-alam.kampung-media.com/2014/03/14/pengalaman-kali-pertama-mendaki-rinjani-1619

Tidak ada komentar:

Posting Komentar